Ternyata Bekasi juga memiliki objek cross country (XC) yang medannya lumayan berat, apalagi di musim hujan bgini. Tour de Muara Gembong ini
sebenarnya diselenggarakan untuk survey. Kami dari B2W Bekasi (Robek) bermaksud untuk melakukan aksi solidaritas, yaitu pemberian pakaian bekas layak pakai kepada korban banjir di Muara Gembong, dlm rangka memperingati ulang tahun Robek yg pertama. Berikut ini kilasan perjalanan kami, 10 Jan 2008:Starting point Tour ini dimulai di pelataran Giant Bekasi. 15 orang Robek’ers berkumpul dan kemudian berangkat pukul 6.45 am dengan om Blacken sebagai leader dan om Alfa sebagai sweaper. Selepas dari Giant kami melewati Bekasi kota untuk menuju ke Babelan. Matahari cukup lembut bersinar mengiringi kepergian kami. Sengaja kami pilih jalan yang cukup sepi sekalipun di
tengah kota Bekasi. Kami melewati bunderan bekas patung lele, kemudian lurus terus melewati rel kereta. Terus..terus...terus....dan terus! Betul, kami hanya mengikuti jalan yg dikomandoi oleh om Blacken. Atau mungkin sempat belok dibeberapa persimpangan, namun karena saya terlalu antusias mengikuti rombongan sehingga lupa dimana kami belok.
Kami semakin masuk ke wilayah Babelan. Jangan harap menikmati mulusnya aspal dg road bike; aspal hancur, jalan makadam dan becek menghadang kami. Sempat terlintas di pikiran saya bahwa daerah ini terlalu terpencil, namun saya sadar, ini belum apa-apa, kami masih terus masuk menjauhi pusat kota. Apalagi saat melewati pasar Babelan. Ampun deh jalannya... Istirahat pertama kami lakukan di Babelan karena ada beberapa teman yg bermaksud mengisi perutnya dg nasi uduk. Jadilah kami berhenti di pinggir jalan. Beberapa dari kami makan (thanx to mpok nasi uduk!!), sisanya berfoto-foto atau memeriksa kondisi sepeda.
Perjalanan kami lanjutkan melewati perkampungan, masuk lebih jauh ke utara Bekasi. Rusaknya jalan dan sinar matahari yg mulai kurang ramah memaksa kami berhenti lagi sekedar utk istirahat, membeli minum dan mengisi perbekalan.
Selepas istirahat kami terus melaju memasuki daerah yg kami baru ketahui belakangan bernama Sungai Labuh. Daerah pantai mulai terasa; sungai besar, dg beberapa kapal yang rusak, tambak payau dan jaring nelayan setempat terlihat. Seperti yang saya duga, semakin menjauhi kota, semakin off road jalannya. Jarak antar rumah pun sudah mulai berjauhan.
Kami belok kanan di persimpangan kilang Pertamina dan melaju terus melintasi daerah rawa. Saat melewati beberapa pemburu babi hutan dan anjingnya yg sangar2 (ternyata masih ada babi liar di Bekasi), kami bermaksud melintasi jalan setapak yang di kanan dan kirinya ilalang setinggi +/- 2m. Belum jauh kami masuk kesana, niat itu kami urungkan karena jalan susah dilalui, terlalu becek. Penduduk sekitar pun menyarankan kami untuk mengambil jalan lain.
Akhirnya kami sampai di titik penyeberangan getek di selat sebelum Muara Gembong. Lumayan, kami bisa istirahat sambil minum air kelapa muda fresh from it tree, warga setempat yang mengambilkannya untuk kami. Dalam istirahat ini akhirnya kami sadar bahwa kami sudah cukup kelelahan. Cyclo menunjukan angka 33 km dari
starting point. Pyuhhh...!! Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ini (lohh!! Ga jadi donk surveynya?? Klo soal ini sih dijawab lain waktu ya...). Selesai beristirahat kami bergegas untuk pulang. Gile! Ternyata perjalanan pulang masih jauh, sementara kami sudah kelelahan dan ditambah lagi dengan teriknya sinar matahari.

Sengaja om Blacken memilih jalan yg berbeda dari keberangkatan. Supaya kami tahu jalan katanya.. Ok, jalan makadam, tanah lumpur, jembatan kayu reyot sampai jalan tanah panjang (banget) di dekat kilang Pertamina kami lalui. Kami berjuang untuk terus menggoes, sekalipun beberapa kali istirahat, baik untuk menunggu teman yg tertinggal maupun berfoto2 (tetep ya, hanya mukanya lebih kusam :p). Orientasi kami hanya 1: singgah di rumah om Blacken for lunch (ternyata sy belum makan dr pagi). Belok kanan / kiri kami lupa, selama om Blacken tetap berada di depan kami. Lapar sudah tak terkira, ternyata kami tidak kunjung sampai ke rumah beliau, jauuhhh...banget!

Akhirnya kami sampai. Kue, buah, syrup, nasi dan teman-temannya kami lahap. Sementara perut mengolah makanan (suatu pekerjaan yang menguras energi dan membutuhkan oksigen), satu persatu dari kami tertidur. Namun perjalanan sy dan beberapa teman belum selesai. Selepas dari rumah om Blacken, kami harus menempuh jarak 10km untuk kembali ke rumah masing-masing.
Total perjalanan ini 76km bdk cyclo sy, suatu moment yg tdk akan terlupakan khususnya karena membuat kami sangat kelelahan.
tengah kota Bekasi. Kami melewati bunderan bekas patung lele, kemudian lurus terus melewati rel kereta. Terus..terus...terus....dan terus! Betul, kami hanya mengikuti jalan yg dikomandoi oleh om Blacken. Atau mungkin sempat belok dibeberapa persimpangan, namun karena saya terlalu antusias mengikuti rombongan sehingga lupa dimana kami belok.Kami semakin masuk ke wilayah Babelan. Jangan harap menikmati mulusnya aspal dg road bike; aspal hancur, jalan makadam dan becek menghadang kami. Sempat terlintas di pikiran saya bahwa daerah ini terlalu terpencil, namun saya sadar, ini belum apa-apa, kami masih terus masuk menjauhi pusat kota. Apalagi saat melewati pasar Babelan. Ampun deh jalannya... Istirahat pertama kami lakukan di Babelan karena ada beberapa teman yg bermaksud mengisi perutnya dg nasi uduk. Jadilah kami berhenti di pinggir jalan. Beberapa dari kami makan (thanx to mpok nasi uduk!!), sisanya berfoto-foto atau memeriksa kondisi sepeda.
Perjalanan kami lanjutkan melewati perkampungan, masuk lebih jauh ke utara Bekasi. Rusaknya jalan dan sinar matahari yg mulai kurang ramah memaksa kami berhenti lagi sekedar utk istirahat, membeli minum dan mengisi perbekalan.Selepas istirahat kami terus melaju memasuki daerah yg kami baru ketahui belakangan bernama Sungai Labuh. Daerah pantai mulai terasa; sungai besar, dg beberapa kapal yang rusak, tambak payau dan jaring nelayan setempat terlihat. Seperti yang saya duga, semakin menjauhi kota, semakin off road jalannya. Jarak antar rumah pun sudah mulai berjauhan.
Kami belok kanan di persimpangan kilang Pertamina dan melaju terus melintasi daerah rawa. Saat melewati beberapa pemburu babi hutan dan anjingnya yg sangar2 (ternyata masih ada babi liar di Bekasi), kami bermaksud melintasi jalan setapak yang di kanan dan kirinya ilalang setinggi +/- 2m. Belum jauh kami masuk kesana, niat itu kami urungkan karena jalan susah dilalui, terlalu becek. Penduduk sekitar pun menyarankan kami untuk mengambil jalan lain.Akhirnya kami sampai di titik penyeberangan getek di selat sebelum Muara Gembong. Lumayan, kami bisa istirahat sambil minum air kelapa muda fresh from it tree, warga setempat yang mengambilkannya untuk kami. Dalam istirahat ini akhirnya kami sadar bahwa kami sudah cukup kelelahan. Cyclo menunjukan angka 33 km dari
starting point. Pyuhhh...!! Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ini (lohh!! Ga jadi donk surveynya?? Klo soal ini sih dijawab lain waktu ya...). Selesai beristirahat kami bergegas untuk pulang. Gile! Ternyata perjalanan pulang masih jauh, sementara kami sudah kelelahan dan ditambah lagi dengan teriknya sinar matahari.
Sengaja om Blacken memilih jalan yg berbeda dari keberangkatan. Supaya kami tahu jalan katanya.. Ok, jalan makadam, tanah lumpur, jembatan kayu reyot sampai jalan tanah panjang (banget) di dekat kilang Pertamina kami lalui. Kami berjuang untuk terus menggoes, sekalipun beberapa kali istirahat, baik untuk menunggu teman yg tertinggal maupun berfoto2 (tetep ya, hanya mukanya lebih kusam :p). Orientasi kami hanya 1: singgah di rumah om Blacken for lunch (ternyata sy belum makan dr pagi). Belok kanan / kiri kami lupa, selama om Blacken tetap berada di depan kami. Lapar sudah tak terkira, ternyata kami tidak kunjung sampai ke rumah beliau, jauuhhh...banget!

Akhirnya kami sampai. Kue, buah, syrup, nasi dan teman-temannya kami lahap. Sementara perut mengolah makanan (suatu pekerjaan yang menguras energi dan membutuhkan oksigen), satu persatu dari kami tertidur. Namun perjalanan sy dan beberapa teman belum selesai. Selepas dari rumah om Blacken, kami harus menempuh jarak 10km untuk kembali ke rumah masing-masing.
Total perjalanan ini 76km bdk cyclo sy, suatu moment yg tdk akan terlupakan khususnya karena membuat kami sangat kelelahan.

1 komentar:
Oceep...saluuuutt...ternyata loe konsisten banget niy nulis blognya. Cool...
Posting Komentar