Rabu, 31 Desember 2008

Carita, here i come

Senangnya... bisa refreshing lagi ke pantai Carita. Gw berharap kejadian seperti dulu ga terulang lagi: got lost! hahahaha...

Kali ini bareng temen2 Greja gw.. seru deh.. mulai dari kacamata gw hanyut diterjang ombak (hari pertama boo...), main banana boat (ga ada bosennya ya), "menikmati" sun burn (halah!!) sampai sok bergaya bay watch, berpura-pura surfing.

Ini foto-foto kenangannya...


ini foto temen-temen gw yg tepar...

Senin, 22 Desember 2008

Mendung Yang Tak Berkesudahan

semalam hujan turun lebatnya...

Pagi ini cukup mendung... tapi kami terus berjalan... hanya kami bertiga menembus belantara perkampungan di Bekasi hingga Cikarang. Perjalanan ini gw awali dengan rasa ragu, namun gw tetap maju. Sepanjang jalan pemandangan kurang bisa kami nikmati. Memang udaranya cukup nyaman untuk bersepeda, namun karena sisa hujan semalam membuat tanah yang kami lalui menjadi sangat becek. Perjalanan kami hanya sekitar 45km, namun sebagian besar kami tempuh dengan susah payah. Ini sekilas cerita dari perjalanan kami. ohya, kami menghibur diri dengan ikut panen rambutan dan makan makanan khas Jakarta pinggiran: sayur Gabus Pucung, slrruuuppp.... nikmat. Cukup mengobati perjalanan kami.

Rabu, 17 Desember 2008

Road to Nawit


Start 6.45 dari Kemang Pratama, gw hanya berdua dengan Om Iwan. Rute kami saat ini sebenarnya hanya menjelajah daerah Cipendawa atau Mustika Jaya. Yah, anggap aja ekspedisi tanpa tujuan yang jelas. Om Iwan ini terkenal banget tau seluk beluk trek di Bekasi. Jadilah gw mengikuti beliau diperjalanan yang (ternyata) panjang dan melelahkan ini.

Kami keluar dari Kemang Pratama, melewati jalan perkampungan hingga tembus di daerah Cipendawa, dekat dengan rumah makan Palasari yang terkenal di kalangan goweser Bekasi. Jalur yang kami lalui campuran antara jalan aspal serta tanah becek. Om Iwan terlihat gesit dengan hardtail Bianchi-nya, sementara gw dengan Patrol fullsus berusaha mengimbangi.

Dari arah Cipendawa kami masuk ke Mustika Jaya dan terus masuk hingga pedalaman Bantar Gebang. Di daerah ini gw masih bisa melihat sawah yang terbentang sangat luas. Bukan apa-apa, kami memang bersepeda melalui pematang sawah. Setelah melewati “home industry” pembuatan kaca, musibah menimpa gw. Ban depan bocor kena pecahan kaca. Wah, terpaksa ganti ban deh. Setahun lebih gw bersepeda baik on road maupun off road, namun baru sekarang mau tdk mau gw harus ganti ban sendiri, secara engga ada tukang tambal di pedalaman sini. Proses penggantian ban dilakukan dengan cepat secepat rasa lapar menyergap kami – maklum kami sudah bersepeda selama 2 jam dan hanya mengisi perut dengan air putih saja.

Kurang puas mengganjal perut dengan pisang ambon, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah Bondol, konon disana ada warung makan yang menjual sop. Sayangnya saat kami tiba, warung itu belum buka. Perjalanan ke bondol kami lalui melewati pinggiran hutan bamboo dan jalur pipa gas. Saat itu Matahari sudah mulai menunjukan sengatnya. Trek disekitar pipa gas ini tidak dinaungi oleh pohon besar, melainkan hanya tanaman padi gogo. Itu loh jenis padi yang bisa ditanam di ladang.

Lepas dari Bondol, kami menuju trek Pandan dan bertemu dengan 2 goweser lainnya. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Nawit, “tanggung sudah sampai disini”, kata Om Iwan. Perjalanan ke Nawit kami tempuh relative cepat sekalipun jalurnya begitu teknikal. Jam 10.30 kami sampai di base camp Nawit dan langsung disuguhi menu special warung Nawit: ikan sungai, udang kecil-kecil, lalap daun kacang, sop ayam. Hmm… terlena dengan makanan yg enak membuat gw harus membayar harga yang mahal dalam perjalanan pulang: Kecapean!

Rute:
  • Pergi: Mix antara rute gebraker-roger- robek-pak sairin
  • Pulang: road captain cak Ipul, sebagai lurah Bondol yang menyajikan rute mantap dan beberapa rute teknikal.
  • Kontur tanah relatif datar hanya dari 40m-80m dpl-
  • Start KP1-KP2-KP5 mulai masuk perkampungan di belakang KP5 keluar Cipendawa dengan RM Palasari (onrod dan sedikit offroad)
  • Cipendawa-Mustikasari lewat Perum Bojong Menteng (mix onroad-offroad)
  • Mustikasari - Pedurenan, mulai view persawahan, pohon bambu dan udara pagi yang menyegarkan. (offroad)
  • Pedurenan-Bumi Alam Hijau-Kp. Sumur batu - BantarGebang - Monteklamot - Jalur Pipa Gas (JPG) - (offroad dan onroad teduh, kecuali Jalur Pipa Gas offroad puanass)
  • Taman Sari- Ciledug lewat Situ Burangkeng (offroad) - Warung Sop Cisaat (09.30 masih tutup)
  • Kebon Salak Cisaat - Bondol (offroad)
  • Pulang melalui Nawit ke arah Cisaat menuju Ciledug (offroad)
  • Cileduk - Pedurenan (onroad)
  • Total Jelajah PP 80 km,

Rabu, 03 Desember 2008

Kampanye B2W

Wuahhh.. udah lama banget ga isi blog neh..
Setelah sekian lama, akhirnya bisa juga jalan bareng-bareng temen Robek. Bukan off road, bukan juga touring Jakarta – Bandung, tapi kampanye B2W di komplek tetangga.

Alkisah sebuah sekolah: Global International School, mengadakan pengambilan raport siswa-siswinya. Untuk menambah seru acara rutin itu, GIS mengadakan bazaar yang standnya diisi oleh para orang tua siswa. Beruntung salah satu rekan kami, Om Bimo, punya anak yang sekolah disana, sehingga kami bisa buka stand (lapak) untuk kampanye B2W plus jualan berbagai merchand B2W. acaranya lumayan seru… banyak juga orang tua siswa yang tertarik, mereka Tanya ini-itu, sampai beli merchand yang kami sediakan.
Hmm…semoga dengan kampanye ini, minimal beberapa dari mereka sadar untuk memulai gaya hidup baru: bersepeda!

Catatan dari Bengkulu

Museum Soekarno di Bengkulu. Ya, itu tujuan gw di sela-sela kesibukan bisnis di kota ini, maklum baru dua kali ke Bengkulu dan baru sekarang ini bisa masuk ke museum yang dulunya merupakan rumah peristirahatan Bung Karno, yang sekaligus juga merupakan tempat pembuangan Beliau.

Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Rumah yang dibangun jaman Belanda ini masih kokoh berdiri sampai sekarang, mungkin karena turut dipugar juga oleh pemerintah RI. Warna tembok yang khas seperti rumah umumnya di masa lalu, cream white. Segalanya masih terlihat apik dan bersih. Angan gw terpancing untuk menyelusuri jejak Beliau di masa lalu, masa-masa yang mungkin cukup sukar untuk Beliau hadapi, sekaligus juga masa-masa cintanya yang bahagia saat bertemu dengan Ibu Fatmawati.

Di rumah ini ada beberapa barang menjadi nostalgia jaman Bung Karno. Misalnya sepeda onthel yang biasa Beliau gunakan, foto-foto yang bergantungan di dinding, 1 set kursi dan meja tamu, beberapa lemari serta 2 buah ranjang, masing-masing yang ukuran double dan single. Nah serunya ada di salah satu ruangan, yang ada ranjang double-nya. Temen gw yang pertama masuk, entah kenapa tidak beberapa lama keluar lagi sambil mesem-mesem. “buruan balik yuk!!” katanya, bikin gw makin penasaran neeh. Akhirnya gw masuk tuh ke ruangan itu, nah, pas gw mau ambil foto ranjangnya. Jeng..jeng..jeng… telinga kiri gw ditiup angin. Gosh… ini ruangan tertutup… angin dari mana tuh??

Gw bukan tipe penakut tentunya. Gw coba palingkan wajah ke arah angin berhembus, ke kiri tepatnya. Sebuah lemari pakaian kecil di sudut. Karena memiliki kaca yang cukup besar, didalamnya terlihat beberapa kostum, yang mungkin dipakai juga oleh Beliau dulu. Brrr…. Nuansanya mistis juga.

Setelah puas foto-foto, gw putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pecinan Gate, Benteng Inggris dan Tugu Thomas Peer. Polemik unik nih tentang tugu yang dibangun ditengah jalan ini. Tugu ini dibangun untuk memperingati Thomas Peer, bule yang dibunuh oleh penduduk setempat pada masa penjajahan dulu. Sayang, katanya tugu ini akan dibongkar (gihancurkan) karena akan dibangun under pass. Sayang sekali ya, padahal tugu ini saji situs budaya setempat loh, selain Museum Bung Karno, Pantai Panjang dan Benteng Ingris.