Museum Soekarno di Bengkulu. Ya, itu tujuan gw di sela-sela kesibukan bisnis di kota ini, maklum baru dua kali ke Bengkulu dan baru sekarang ini bisa masuk ke museum yang dulunya merupakan rumah peristirahatan Bung Karno, yang sekaligus juga merupakan tempat pembuangan Beliau.
Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Rumah yang dibangun jaman Belanda ini masih kokoh berdiri sampai sekarang, mungkin karena turut dipugar juga oleh pemerintah RI. Warna tembok yang khas seperti rumah umumnya di masa lalu, cream white. Segalanya masih terlihat apik dan bersih. Angan gw terpancing untuk menyelusuri jejak Beliau di masa lalu, masa-masa yang mungkin cukup sukar untuk Beliau hadapi, sekaligus juga masa-masa cintanya yang bahagia saat bertemu dengan Ibu Fatmawati.
Di rumah ini ada beberapa barang menjadi nostalgia jaman Bung Karno. Misalnya sepeda onthel yang biasa Beliau gunakan, foto-foto yang bergantungan di dinding, 1 set kursi dan meja tamu, beberapa lemari serta 2 buah ranjang, masing-masing yang ukuran double dan single. Nah serunya ada di salah satu ruangan, yang ada ranjang double-nya. Temen gw yang pertama masuk, entah kenapa tidak beberapa lama keluar lagi sambil mesem-mesem. “buruan balik yuk!!” katanya, bikin gw makin penasaran neeh. Akhirnya gw masuk tuh ke ruangan itu, nah, pas gw mau ambil foto ranjangnya. Jeng..jeng..jeng… telinga kiri gw ditiup angin. Gosh… ini ruangan tertutup… angin dari mana tuh??
Gw bukan tipe penakut tentunya. Gw coba palingkan wajah ke arah angin berhembus, ke kiri tepatnya. Sebuah lemari pakaian kecil di sudut. Karena memiliki kaca yang cukup besar, didalamnya terlihat beberapa kostum, yang mungkin dipakai juga oleh Beliau dulu. Brrr…. Nuansanya mistis juga.
Setelah puas foto-foto, gw putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pecinan Gate, Benteng Inggris dan Tugu Thomas Peer. Polemik unik nih tentang tugu yang dibangun ditengah jalan ini. Tugu ini dibangun untuk memperingati Thomas Peer, bule yang dibunuh oleh penduduk setempat pada masa penjajahan dulu. Sayang, katanya tugu ini akan dibongkar (gihancurkan) karena akan dibangun under pass. Sayang sekali ya, padahal tugu ini saji situs budaya setempat loh, selain Museum Bung Karno, Pantai Panjang dan Benteng Ingris.
Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Rumah yang dibangun jaman Belanda ini masih kokoh berdiri sampai sekarang, mungkin karena turut dipugar juga oleh pemerintah RI. Warna tembok yang khas seperti rumah umumnya di masa lalu, cream white. Segalanya masih terlihat apik dan bersih. Angan gw terpancing untuk menyelusuri jejak Beliau di masa lalu, masa-masa yang mungkin cukup sukar untuk Beliau hadapi, sekaligus juga masa-masa cintanya yang bahagia saat bertemu dengan Ibu Fatmawati.
Di rumah ini ada beberapa barang menjadi nostalgia jaman Bung Karno. Misalnya sepeda onthel yang biasa Beliau gunakan, foto-foto yang bergantungan di dinding, 1 set kursi dan meja tamu, beberapa lemari serta 2 buah ranjang, masing-masing yang ukuran double dan single. Nah serunya ada di salah satu ruangan, yang ada ranjang double-nya. Temen gw yang pertama masuk, entah kenapa tidak beberapa lama keluar lagi sambil mesem-mesem. “buruan balik yuk!!” katanya, bikin gw makin penasaran neeh. Akhirnya gw masuk tuh ke ruangan itu, nah, pas gw mau ambil foto ranjangnya. Jeng..jeng..jeng… telinga kiri gw ditiup angin. Gosh… ini ruangan tertutup… angin dari mana tuh??
Gw bukan tipe penakut tentunya. Gw coba palingkan wajah ke arah angin berhembus, ke kiri tepatnya. Sebuah lemari pakaian kecil di sudut. Karena memiliki kaca yang cukup besar, didalamnya terlihat beberapa kostum, yang mungkin dipakai juga oleh Beliau dulu. Brrr…. Nuansanya mistis juga.
Setelah puas foto-foto, gw putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pecinan Gate, Benteng Inggris dan Tugu Thomas Peer. Polemik unik nih tentang tugu yang dibangun ditengah jalan ini. Tugu ini dibangun untuk memperingati Thomas Peer, bule yang dibunuh oleh penduduk setempat pada masa penjajahan dulu. Sayang, katanya tugu ini akan dibongkar (gihancurkan) karena akan dibangun under pass. Sayang sekali ya, padahal tugu ini saji situs budaya setempat loh, selain Museum Bung Karno, Pantai Panjang dan Benteng Ingris.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar