Rabu, 31 Desember 2008

Carita, here i come

Senangnya... bisa refreshing lagi ke pantai Carita. Gw berharap kejadian seperti dulu ga terulang lagi: got lost! hahahaha...

Kali ini bareng temen2 Greja gw.. seru deh.. mulai dari kacamata gw hanyut diterjang ombak (hari pertama boo...), main banana boat (ga ada bosennya ya), "menikmati" sun burn (halah!!) sampai sok bergaya bay watch, berpura-pura surfing.

Ini foto-foto kenangannya...


ini foto temen-temen gw yg tepar...

Senin, 22 Desember 2008

Mendung Yang Tak Berkesudahan

semalam hujan turun lebatnya...

Pagi ini cukup mendung... tapi kami terus berjalan... hanya kami bertiga menembus belantara perkampungan di Bekasi hingga Cikarang. Perjalanan ini gw awali dengan rasa ragu, namun gw tetap maju. Sepanjang jalan pemandangan kurang bisa kami nikmati. Memang udaranya cukup nyaman untuk bersepeda, namun karena sisa hujan semalam membuat tanah yang kami lalui menjadi sangat becek. Perjalanan kami hanya sekitar 45km, namun sebagian besar kami tempuh dengan susah payah. Ini sekilas cerita dari perjalanan kami. ohya, kami menghibur diri dengan ikut panen rambutan dan makan makanan khas Jakarta pinggiran: sayur Gabus Pucung, slrruuuppp.... nikmat. Cukup mengobati perjalanan kami.

Rabu, 17 Desember 2008

Road to Nawit


Start 6.45 dari Kemang Pratama, gw hanya berdua dengan Om Iwan. Rute kami saat ini sebenarnya hanya menjelajah daerah Cipendawa atau Mustika Jaya. Yah, anggap aja ekspedisi tanpa tujuan yang jelas. Om Iwan ini terkenal banget tau seluk beluk trek di Bekasi. Jadilah gw mengikuti beliau diperjalanan yang (ternyata) panjang dan melelahkan ini.

Kami keluar dari Kemang Pratama, melewati jalan perkampungan hingga tembus di daerah Cipendawa, dekat dengan rumah makan Palasari yang terkenal di kalangan goweser Bekasi. Jalur yang kami lalui campuran antara jalan aspal serta tanah becek. Om Iwan terlihat gesit dengan hardtail Bianchi-nya, sementara gw dengan Patrol fullsus berusaha mengimbangi.

Dari arah Cipendawa kami masuk ke Mustika Jaya dan terus masuk hingga pedalaman Bantar Gebang. Di daerah ini gw masih bisa melihat sawah yang terbentang sangat luas. Bukan apa-apa, kami memang bersepeda melalui pematang sawah. Setelah melewati “home industry” pembuatan kaca, musibah menimpa gw. Ban depan bocor kena pecahan kaca. Wah, terpaksa ganti ban deh. Setahun lebih gw bersepeda baik on road maupun off road, namun baru sekarang mau tdk mau gw harus ganti ban sendiri, secara engga ada tukang tambal di pedalaman sini. Proses penggantian ban dilakukan dengan cepat secepat rasa lapar menyergap kami – maklum kami sudah bersepeda selama 2 jam dan hanya mengisi perut dengan air putih saja.

Kurang puas mengganjal perut dengan pisang ambon, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah Bondol, konon disana ada warung makan yang menjual sop. Sayangnya saat kami tiba, warung itu belum buka. Perjalanan ke bondol kami lalui melewati pinggiran hutan bamboo dan jalur pipa gas. Saat itu Matahari sudah mulai menunjukan sengatnya. Trek disekitar pipa gas ini tidak dinaungi oleh pohon besar, melainkan hanya tanaman padi gogo. Itu loh jenis padi yang bisa ditanam di ladang.

Lepas dari Bondol, kami menuju trek Pandan dan bertemu dengan 2 goweser lainnya. Kami langsung melanjutkan perjalanan ke Nawit, “tanggung sudah sampai disini”, kata Om Iwan. Perjalanan ke Nawit kami tempuh relative cepat sekalipun jalurnya begitu teknikal. Jam 10.30 kami sampai di base camp Nawit dan langsung disuguhi menu special warung Nawit: ikan sungai, udang kecil-kecil, lalap daun kacang, sop ayam. Hmm… terlena dengan makanan yg enak membuat gw harus membayar harga yang mahal dalam perjalanan pulang: Kecapean!

Rute:
  • Pergi: Mix antara rute gebraker-roger- robek-pak sairin
  • Pulang: road captain cak Ipul, sebagai lurah Bondol yang menyajikan rute mantap dan beberapa rute teknikal.
  • Kontur tanah relatif datar hanya dari 40m-80m dpl-
  • Start KP1-KP2-KP5 mulai masuk perkampungan di belakang KP5 keluar Cipendawa dengan RM Palasari (onrod dan sedikit offroad)
  • Cipendawa-Mustikasari lewat Perum Bojong Menteng (mix onroad-offroad)
  • Mustikasari - Pedurenan, mulai view persawahan, pohon bambu dan udara pagi yang menyegarkan. (offroad)
  • Pedurenan-Bumi Alam Hijau-Kp. Sumur batu - BantarGebang - Monteklamot - Jalur Pipa Gas (JPG) - (offroad dan onroad teduh, kecuali Jalur Pipa Gas offroad puanass)
  • Taman Sari- Ciledug lewat Situ Burangkeng (offroad) - Warung Sop Cisaat (09.30 masih tutup)
  • Kebon Salak Cisaat - Bondol (offroad)
  • Pulang melalui Nawit ke arah Cisaat menuju Ciledug (offroad)
  • Cileduk - Pedurenan (onroad)
  • Total Jelajah PP 80 km,

Rabu, 03 Desember 2008

Kampanye B2W

Wuahhh.. udah lama banget ga isi blog neh..
Setelah sekian lama, akhirnya bisa juga jalan bareng-bareng temen Robek. Bukan off road, bukan juga touring Jakarta – Bandung, tapi kampanye B2W di komplek tetangga.

Alkisah sebuah sekolah: Global International School, mengadakan pengambilan raport siswa-siswinya. Untuk menambah seru acara rutin itu, GIS mengadakan bazaar yang standnya diisi oleh para orang tua siswa. Beruntung salah satu rekan kami, Om Bimo, punya anak yang sekolah disana, sehingga kami bisa buka stand (lapak) untuk kampanye B2W plus jualan berbagai merchand B2W. acaranya lumayan seru… banyak juga orang tua siswa yang tertarik, mereka Tanya ini-itu, sampai beli merchand yang kami sediakan.
Hmm…semoga dengan kampanye ini, minimal beberapa dari mereka sadar untuk memulai gaya hidup baru: bersepeda!

Catatan dari Bengkulu

Museum Soekarno di Bengkulu. Ya, itu tujuan gw di sela-sela kesibukan bisnis di kota ini, maklum baru dua kali ke Bengkulu dan baru sekarang ini bisa masuk ke museum yang dulunya merupakan rumah peristirahatan Bung Karno, yang sekaligus juga merupakan tempat pembuangan Beliau.

Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Rumah yang dibangun jaman Belanda ini masih kokoh berdiri sampai sekarang, mungkin karena turut dipugar juga oleh pemerintah RI. Warna tembok yang khas seperti rumah umumnya di masa lalu, cream white. Segalanya masih terlihat apik dan bersih. Angan gw terpancing untuk menyelusuri jejak Beliau di masa lalu, masa-masa yang mungkin cukup sukar untuk Beliau hadapi, sekaligus juga masa-masa cintanya yang bahagia saat bertemu dengan Ibu Fatmawati.

Di rumah ini ada beberapa barang menjadi nostalgia jaman Bung Karno. Misalnya sepeda onthel yang biasa Beliau gunakan, foto-foto yang bergantungan di dinding, 1 set kursi dan meja tamu, beberapa lemari serta 2 buah ranjang, masing-masing yang ukuran double dan single. Nah serunya ada di salah satu ruangan, yang ada ranjang double-nya. Temen gw yang pertama masuk, entah kenapa tidak beberapa lama keluar lagi sambil mesem-mesem. “buruan balik yuk!!” katanya, bikin gw makin penasaran neeh. Akhirnya gw masuk tuh ke ruangan itu, nah, pas gw mau ambil foto ranjangnya. Jeng..jeng..jeng… telinga kiri gw ditiup angin. Gosh… ini ruangan tertutup… angin dari mana tuh??

Gw bukan tipe penakut tentunya. Gw coba palingkan wajah ke arah angin berhembus, ke kiri tepatnya. Sebuah lemari pakaian kecil di sudut. Karena memiliki kaca yang cukup besar, didalamnya terlihat beberapa kostum, yang mungkin dipakai juga oleh Beliau dulu. Brrr…. Nuansanya mistis juga.

Setelah puas foto-foto, gw putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pecinan Gate, Benteng Inggris dan Tugu Thomas Peer. Polemik unik nih tentang tugu yang dibangun ditengah jalan ini. Tugu ini dibangun untuk memperingati Thomas Peer, bule yang dibunuh oleh penduduk setempat pada masa penjajahan dulu. Sayang, katanya tugu ini akan dibongkar (gihancurkan) karena akan dibangun under pass. Sayang sekali ya, padahal tugu ini saji situs budaya setempat loh, selain Museum Bung Karno, Pantai Panjang dan Benteng Ingris.

Sabtu, 21 Juni 2008

B2W feat RI 1



Gw bela-belain bangun jam 4 pagi – sementara corong mesjid belum berbunyi, padahal semalam tidur jam 00.00. Apalagi kalau bukan karena acara B2W yang sepedahan bareng RI 1. Yes, our beloved president – SBY. Sebelumnya memang terjadi pro & kontra atas hal ini. Beberapa teman di B2W takut kalau ini sekedar pra kampanye untuk pemilu tahun depan. Apalagi isu lingkungan sedang ramai dibicarakan akhir-akhir ini. Tapi biarlah, toh itu belum tentu benar. Just take the advantage, kapan lagi bisa goes bareng beliau. 04.30am sepeda sudah gw goes menuju meeting point pertama. Jalan santai di pagi-pagi buta ditemani udara dingin, namun setelah join dengan rombongan, engga ada lagi tuh yang namanya jalan santai, melainkan ngebut sengebut-ngebutnya. Maklum, rombongan pembalap…

Kumpul di meeting point kedua; bunderan HI, sambil menunggu rombongan bang Andi Malaranger – rombangan yang lebih gokil lagi ngebutnya! Setelah berhahahihi dengan teman lama, kami bergegas ke istana. Wow, dapat pengawalan khusus loh! Sampai di istana, setelah bapak SBY berpidato tentang lingkungan hidup, kami disuguhkan makanan bubur ayam khas istana Negara. Ini dia bubur ayam, yang ayam, telur puyuh, cakwe dan ati ampelanya bisa all you can eat. Mantab! Setelah puas sarapan yang mulailah kebiasaan para B2Wers: foto-foto! He..he..he.. ternyata para om dan tante yang peduli dengan lingkungan ini banci foto juga neeh!

viva Bike 2 Work
Demi bumi kita bersama
Demi generasi penerus

Musafir 4 Hari

Akhirnya…setelah beberapa minggu berkutat dengan pekerjaan kantor yang cukup membosankan, kini tiba lagi giliran gw untuk dinas luar kota. Wow! I love this opportunity! Perjalan gw kali ini sungguh luar biasa. Bukan apa-apa, gw harus ada di beberapa kota dalam waktu 4 hari: Palu dan Ternate, tapi via Surabaya, Makasar dan Manado


Masih ke tempat yang sama seperti yang pernah gw kunjungi dulu: Palu. Kota yang sepi, panas dan agak mahal makanannya. Berangkat dari bandara Soekarno Hatta pukul 7.30am (artinya dari jam 4.30 am gw harus sudah ada di Damri). Kali ini pesawat yang gw tumpangi transit via Surabaya. Wah ini pertama kalinya gw ke Surabaya. Disaat menikmati perjalanan di udara, perut ini mulai terusik. Maklum sudah dua hari belum melakukan “panggilang alam” (baca: pup). Sambil berharap akan segera sampai, gw mencoba bertahan sekuat tenaga. Klo sampe kebobolan? Ampun deh malunya, lagi pula gw bakalan di blacklist ama maskapai penerbangan.


Sampai sudah di Surabaya, Yes!!! Tapi…koq ga boleh turun ya?? Ternyata pesawat hanya transit sebentar. Aduh..duh..gimana nih?? Modal kulit badak gw beranikan diri bertanya ke Pramugari yang cantik. “mbak, maaf boleh keluar pesawat ga? Saya sakit perut neh.. khan ga mungkin di toiliet pesawat…” sambil memelas gw menatap si mbak pramugari. Dia kembali menatap dengan cara yang aneh (mungkin dia pikir ni cowo keren tapi ga bisa nahan pup… Yee.. terserah gw donk…! Klo soal beginian mana bias ditahan…), kemudian mempersilahkan gw untuk keluar, “tapi harus lapor dulu ke bagian transit ya Mas”. Gw langsung melesat mencari tempat melapor. Ya ampunnn… teryata jauhnya ga kira-kira…mana gw harus menahan “sampah” ini lagi!!

---

Singkat cerita “acara” ini selesai sudah. Khan ga perlu diceritakan detil ya prosesnya. Anyway, toilet di bandara Surabaya ternyata lebih bersih dari Soekarno-Hatta. Bahkan secara keseluruhan bandara ini relative lebih bersih dari bandara lain di Indonesia.


Malam ini gw habiskan di Palu. Buru-buru tidur karena besok pagi harus bertemu dengan pejabat setempat. Flu yang belum sembuh ditambah nasi goring hongkong yang baru gw makan menambah semangat untuk tidur (Loh???!).


Setalah menyelesaikan pekerjaan, sebelum barangkat ke airport untuk lanjut ke Manado via Makasar (tuh…panjang khan perjalannya), gw sempatkan makan di tempat yang cukup terkenal di Palu: restoran Darisa, dengan menu spesialnya: “Pallumara Makasar”. Hmmm…makanan ini harus dicoba. Terbuat dari kepala ikan Kakap, mirip seperti gulai Kakap, hanya saja rasanya lebih “ringan”. Warnanya yang kuning mentereng, diberikan taburan bawang goreng Palu yang terkenal (btw, bawang goreng disini sangat terkenal enak dan mahal: 1 pak = Rp. 50.000), plus ada irisan cabai. Hmm…benar-benar luar biasa. Serat dagingnya lembut, bumbunya mantab! Pokoknya klo kesini, gw harus makan ini lagi.


Nah, perjalanan belum berakhir juga. Gw masih harus melanjutkan dinas di Ternate – secara untuk kesana flight-nya agak susah dan yang pasti sedang rawan kerusuhan pilgub. Karena sulitnya rute penerbangan, maka rute yang gw ambil seperti ini: Palu – Makasar – Manado (nginep 1 malam) – Ternate. Capenya? Bisa dibayangin deh rasanya. Mulai dari nunggu karena delay yang kelewatan sampai pegelnya berjam-jam di pesawat. Gw cukup terhibur sekalipun delay lumayan lama di Makasar, maklum executive lounge-nya lumayan bersih & nyaman untuk istirahat (sekalipun makanannya standar banget). Akhirnya pesawat yang ditunggu-tunggu tiba juga dan gw langsung berangkat ke Manado.


Perjalanan yang engga kalah seremnya adalah ketika terbang dari Manado to Ternate. Melintasi lautan dalam khas Indonesia timur, dengan pesawat kecil pula. Pastinya berasa banget guncangan akibat turbulence. Tidak ada kata lain terucap selain doa agar bisa tiba dengan selamat. Apalagi gw menggunakan maskapai yang sama dengan maskapai penerbangan yang pesawatnya hilang di perairan Majene – Sulawesi tahun lalu. Hiiiiiiiiii……. Apesnya, pulang dari Ternate esok harinya juga menggunakan pesawat yang sama. Maklum, bandara Sultan Baabulah di Ternate adalah bandara kecil. Boro-boro Boing ER900, lah wong Boing 747-300 aja ndak bisa mendarat…


Pengalaman yang berkesan adalah ketika makan pisang goreng di cafe Fides (semoga engga salah sebut ya…). Pisang goreng? Iya bener, pake sambel merah lagi… tapi yang istimewa adalah pemandangannya – di tepi danau melihat pulau Maitara dan Tidore – persis sama dengan yang di uang Rp. 1.000an. Hayoo…keren khan?!

Jumat, 09 Mei 2008

Forbidden Kingdom


Maksud hati mau nonton film Iron Man. Mau tau sebagus apa sih seperti yg diceritain beberapa temen gw. Sampai di 21 ternyata penontonnya membludak banget… gile, pada niat banget nonton film ini, sampai-sampai gw ga dpt tiket. Daripada cengo, nonton Forbidden Kingdom kayaknya seru juga nih!

Ternyata bener, film ini juga ga kalah serunya dibanding preview-nya Iron Man. Sebagai pre opening kita disuguhkan slide poster-poster film kungfu jadul. Keliatan tuh tampangnya Bruce Lee dan artis lain – yg gw ga tau namanya. Jadi inget dulu banget waktu SMP, gw lagi demen-demennya nonton film silat. Nah pas openingnya gw baru tau klo film ini ngebahas tentang si Kera Sakti (Sun Go Kong). Aksi kocaknya Jet Lee sebagai kera sakti yg mengobrak-abrik khayangan mengundang tawa penonton. Karena ulahnya itulah kera sakti dihukum di Gunung 5 Jari.

Kemudian scene berganti jadi masa kini. Seorang anak muda di Boston, Jason, freak banget dengan hal-hal berbau kungfu. Sampai akhirnya karena sesuatu hal, Jason terseret ke masa lalu, memulai petualangannya untuk menyelamatkan kera sakti. Ternyata Jason itu orang “terpilih” yang diramalkan akan membebaskan kera sakti. Petualangan demi petualangan dilewati. Ditemani pengemis gokil (Jacky Chen), biksu yg suka anggur (Jet Lee) dan wanita misterius – golden sparrow. Mulai dari seorang anak muda biasa yg ga jago kungfu, kemudian karena giat latihan bias jadi lumayan sakti. Perjalan petualangannya juga cukup seru; berantem di rumah bordil, di taman bunga, tersesat di gurun sampai akhirnya tiba di Gunung 5 Jari.

Serunya, penonton akan melihat jurus-jurus legenda dari Cina kuno. Drunken Fist vs Cakar Naga Sholin, jurus Belalang vs jurus Macan. Cocok buat yg mau bernostalgia dengan film silat jadul. Ohya, disini juga muncul tokoh White Hair Lady yg ganasnya minta ampyun.

Tapi sebagus apapun filmnya tetep aja ada yg kurang, misalnya:
ceritanya gampang ketebak, ala Hollywood banget: tokohnya anak muda, dari masa sekarang jatuh pingsan dan kembali ke masa lalu. Kemudian setelah misinya selesai, dia balik lagi ke masanya, sadar dari pingsannya, eh tapi bekas luka di pipinya masih ada. Biar kesannya nyata banget gitu deh. Ceritanya juga ada yg ga konsisten, misalnya semula pake kuda, tapi pas mengembara di dessert, kudanya ga ada. Eh setelah itu, ada lagi kudanya. Aneh khan??

Tapi, overall keren banget nih. Silahkan nonton buat yg penasaran

Senin, 21 April 2008

The Lost Boy (Part 2)

Masih separuh tidak percaya bahwa gw tertinggal rombongan. Padahal disela-sela mancing, gw liat beberapa temen yang semula duduk di tepi pantai kemudian berbalik dan menuju cottage. Tapi bener deh, gw ga nyangka klo mereka itu pada berangkat dan TANPA gw!! Pengen banget rasanya gw jitax temen gw itu.

Segera (baca: secara grabak-grubuk) gw bereskan barang-barang dan langsung berdiri di tepi jalan. Berlagak seperti turis yg mau menumpang kendaraan, gw mengacungkan jempol tanda ingin ikut. Ah, ternyata tidak seperti film-film Hollywood, dimana si jagoan diberikan tumpangan oleh wanita cantik. Itu semua bohong! Boro-boro wanita cantik, nenek-nenek aja tidak ada yang menepikan kendaraannya (Loh! Emang nenek-nenek masih kuat nyetir??). Jadi inget kalimat trademark-nya Cinta Laura, “Mana hyujan, ga ada ojek… bechek!!”

Setelah bersusah payah mencoba menyetop kendaraan dengan cara yang beradab, kini waktunya dengan cara yang “agak liar”: berdiri hampir di tengah jalan sambil menggerakan kedua tangan naik turun dengan cepat. Akhirnya ada seorang bapak baik hati dengan motor bebek tuanya (heran, dari tadi gw selalu berurusan dengan bapak-bapak), yang mau berhenti dan mengantar gw ke Pantai Lippo – Carita. Tawar menawar harga terjadi dan akhirnya bilangan Rp. 10.000,- disepakati untuk mengantar gw sampai tujuan. Jaraknya lumayan jauh, +/- 18 Km, apalagi ditambah rusak dan beceknya jalanan. Wah, ternyata si jagoan (baca: gw) harus naik ojek.

“Ngebut bang! Saya ketinggalan rombongan”
“Iya mas, ini teh juga udah ngebut”

Si bapak menjawab dengan logat Sundanya yg kental. Mungkin si bapak berpikir, lo bayar ceban aja masih minta buru-buru… Hihihi… sorry deh Pak. Ohya, belakangan gw tau nama si bapak: Mr. Marzuki. Thanx to you sir!

Sepanjang jalan gw hanya bisa cengar-cengir, koq bisa ya gw ketinggalan. Untung hanya Anyer – Carita, coba kalau Anyer – Jakarta, pusinglah gw nyari tumpangan. Ojek yg gw tumpangi ternyata tidak bisa melaju dg cepat, mungkin karena banyaknya ruas jalan yang rusak dan becek, sampai-sampai ada beberapa kendaraan yang slip bannya. Catet nih buat pemda setempat, gimana objek wisatanya mau berkembang kalau akses jalannya tdk bagus!! Yah sudahlah, ga bermaksud menyalahkan mereka. Beberapa orang yang berpapasan dg ojek gw melihat gw dg cara yg “kurang wajar”. Ah jangan-jangan mereka bingung liat muka ganteng ke-Arab-arab-an naik ojek. Hihihi… biasa aja donk. Belom lagi si Pa Marzuki sempet-sempetnya curhat tentang kondisi objek wisata disini.

Tdk lama bos gw telepon lagi, memberikan penghiburan dg bilang klo bisa belum lama jalannya. Thanx bgt loh mbak Agnes, ini juga perjuangan ngejar bus pake ojek. Kira-kira hampir ½ jam perjalanan, Pa Marzuki menunjuk dari kejauhan lokasi yg dimaksud. Bagus deh klo udah deket.

Setelah tiba, karena gw sadar jaraknya cukup jauh, gw merelakan noban buat si bapak. Temen-temen pada ngerubungin gw dan tanya-tanya ini itu. “Koq bisa nyasar sih Cep?”, “Lo naik apa kesini”, “Kehujanan ga Cep di jalan?” sisanya tertawa cekikikan ngeliat gw datang tergopoh-gopoh. Ah senangnya bisa ketemu mereka lagi. Setelah merasa puas memberikan jawaban, gw join lagi dengan games yang sudah disediakan panitia. Mulai dari permainan-permainan yang “merepotkan” di atas pasir pantai, naik banana boat yg seru banget krn ombaknya lagi besar-besarnya (saking serunya, mbak-mbak HRD dan Finance teriak-teriak ga jelas), sampai bergaya seperti seorang surfer pakai pelampung yang harga sewanya cuma goceng.

Bener-bener pengalaman yang engga terlupakan. Bahkan ketika sedang membuat blog ini gw tdk bisa menahan tawa saat flashback lagi.
Gw – si anak hilang

The Lost Boy (Part 1)



Inilah kisah tentang gw, si anak yang hilang saat Outing kantor ke Anyer

HOREEEE…! Akhirnya kantor tempat gw bekerja mengadakan Outing. Setelah berkutat dg pekerjaan yg cukup membuat mumet, belum lagi kejenuhan karena melakukan pekerjaan yang sudah jadi rutinitas, Outing ini disambut baik oleh temen-temen kantor gw. Apalagi gw baru menuntaskan bab terakhir buku Naked Traveler karya mbak Trinity yang full abis ngebahas soal pengalamannya traveling Memang sih tempat yang dituju tidak terlalu jauh dan boleh dibilang biasa-biasa saja: Anyer, tapi kapan lagi ada kesempatan begini. Ini pasti akan jadi Outing yang seru, apalagi banyak waktu kosong yang bisa gw pergunakan untuk mancing. Perlayanan tempur sudah siap sedia.

Kami berangkat dari kantor pukul 06.30 am. Belaian sinar matahari pagi menyertai kepergian kami ke arah barat pulau Jawa. Senang rasanya melihat wajah-wajah yang rileks dan penuh senyum – tidak seperti biasanya – sekalipun kami diselimuti oleh dinginnya AC selama perjalanan. Beberapa, termasuk gw melanjutkan tidur diperjalanan, apalagi setelah perut ini disumpal dengan sarapan bersama nasi uduk. Sisanya terdengar sayup-sayup ber-hahahihi. Sesekali gw terbangun, memastikan tidak ada rekan gw yg iseng dengan kameranya (belakangan gw baru tahu klo gw kena snapshoot saat tidur!!). Perjalanan ini relatif lancar. Pukul 10.00 am kami sudah sampai di lokasi. Hmm… aroma pasir pantai menyambut kami saat keluar dari bus.

Acara demi acara berlangsung, mulai dari pengarahan (isi: info ttg bonus), snack ½ siang, aneka games sampai makan siang terlewati. “sekarang waktu bebas, kita kumpul jam 3 untuk berangkat ke Carita” demikian pengumuman dari panitia – setidaknya itu yang gw dengar. Wah ini waktunya temen-temen gw istirahat, berarti ini fishing time-nya gw. Dengan peralatan secukupnya gw menyusuri garis pantai – mencari tempat yg strategis. Maklum karena pemula, masih awam menentukan titik yang banyak ikannya, patokan gw hanya satu: disebelah orang yang lagi mancing juga (halah, dangkal banget pemikirannya!). Jadilah gw mancing disebelah si bapak penduduk lokal.

“Mancing apa Pak?”
“Mancing ikan Baronang, dek” sahut si bapak.
“Sudah dapet banyak Pak?”
“Yah, lumayanlah segini ini” sambil memperlihatkan keranjang pancingnya.

Yah..., dikit dan kecil-kecil ikannya, tidak sampai satu telapak tangan. Tapi gimana lagi, gw udah nenteng-nenteng joran. Khan tengsing ama temen klo ga jadi. Akhirnya gw memulai juga usaha memancing ini. Pelampung, pemberat dan kail sudah gw siapkan. Umpannya minta dari si bapak yg baik hati itu. Sret..sret..sret..joran dikibaskan. 1 menit.. 2menit… 5 menit…. 15 menit… Koq tidak ada yg nyantol ya?? Ups, ternyata umpanya sudah tidak ada di kail, entah dimakan ikan kecil atau pecah kena deburan ombak, maklum gw mancing diantara karang-karang. Ah sudah terlalu lama, gw pamit ke si bapak dan balik ke cottage.

Loh! sepi banget. Jangan-jangan gw ditinggal nih, meja tempat kami makan sudah rapih, pintu-pintu tertutup – tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ah, tapi ga mungkin, sekarang baru jam 2, sedangkan berangkat jam 3. Tanpa merasa khawatir gw mengalihkan pandangan ke laut. Sesekali gw melakukan latihan mengayun joran, sampai-sampai ada seorang bapak dan anaknya menunjuk-nunjuk gw. Mungkin si bapak bilang ke anaknya, “De, jangan deket-deket ama Mas yg itu ya, kayaknya agak error, koq mengayun-ayunkan jorang jauh dari bibir pantai”. Hihihi..gw cuek ajalah. Tidak berapa lama gw mulai bosan, lebih baik kembail ke cottage untuk istirahat. Semakin mendekati cottage semakin gw bingung, koq sepi-sepi aja ya. Pada kemana orang-orang. Ketika gw sampai di depan pintu cottage yg terkunci, gw tambah bingung. Apalagi setelah gw lihat disela-sela jendela, ternyata sunyi senyap di dalam. Belom selesai dalam kebingungan, bos gw telepon.

“Ocep, lo dimana”
“Sy di cottage mbak, baru kelar mancing” jawab gw.
“Lah, kita semua udah di bus mau ke Carita”
“Ah yg bener mbak, saya ketinggalan donk???”
MELONGO gw separuh tidak percaya. Gile bener, gw ditinggal rombongan, bener-bener mirip film Home Alone 2. Sambil memacu otak berpikir, gw denger tawa riuh orang satu bus dari seberang telepon. Wah, bener-bener konyol!

Jumat, 11 April 2008

3 Hari di Samarinda






Akhirnya perjalanan dinas mengharuskan gw pergi ke Samarinda, lagi.. buat gw ini dinas yang boleh dikatakan tidak terlalu menyenangkan, maklum dibebani tanggung jawab yang cukup besar. Ceritanya gw harus mendampingi kepala cabang suatu bank, untuk tanda tangan akta jual beli tanah. Sebenarnya sih tanah itu asset kantor gw, namun karena kantor gw punya sister company disana, dimintanyalah untuk mewakili pembelian asset tsb. Gw pergi dengan rasa was-was, pengharapan yang diselingi kecemasan, apakah hal tersebut dapat berjalan lancar. Maklum segalanya dipersiapkan dari jauh (Jakarta – Samarinda), by phone pula (dimana standar di kantor gw telp akan mati otomatis setiap 3 menit). Gile, transaksi ratusan juta dapat terganggu dengan kendala-kendala ini. Belum lagi ditambah kurang mengenalnya pihak notaries dan calon penjual. Duh! Tambah mumet.

Seperti biasalah, pesawat delay 40 menit di bandara Cengkareng. Padahal gw sudah sampai jam 5 am (seharusnya pesawat take off jam 6 teng!). Sampai di Balikpapan gw sudah siap untuk naik ke taxi super yang akan mengantarkan gw ke Samarinda. Super disini maksudnya taxi yang jalan super cepat namun kurang hati-hati. Bener aja khan, suatu saat di jalan taxi yg gw tumpangi hampir terlindas truk karena mencoba menyalip tanpa perhitungan. Thanx God, itu tidak terjadi!!

Gw sampai tepat setelah jam makan siang. Tanpa istirahat, gw, ditemani notaris langsung menuju lokasi untuk melakukan pengukuran. Ohya,. Sebelumnya gw sempat bersitegang dg notaries ini sebelum keberangkatan. Biasalah masing-masing punya kepentingan, dia mau sesuai prosedur (yg menurut gw engga banget deh), gw mau yang cepat tapi aman. Saking serunya, sempat telp gw tdk diangkat, padahal gw perlu konfirmasi untuk hari-H ini. Tetapi ketika sudah bertemu, rasa kesal itu mulai hilang. Yah mungkin itu dia, klo mau deal dg seseorang sebaiknya bertemu langsung biar jelas apa maunya masing-masing, jangan sekedar pake telp, apalagi mati tiap 3 menit, halah!!

Pengukuran kelar, gw siap kembali ke hotel untuk istirahat. Di perjalanan gw sempatkan untuk konfirmasi ke si penjual. “Pak, sy sudah pengukuran dg notaries, besok siap ttd akta” sms gw kirimkan. “Nit...Nit!”… “wah saya sedang di bandara, saya akan ke Jakarta. Rabu saja” sms gw terima. WHAT’S??!! mencelat jantung gw pindah dari posisinya. Kaget plus panic, gw seperti petasan karapan sapi dg sumbu pendek yang siap meletus. Gimana bisa dia pergi dadakan tanpa info. Sementara jatah gw disini hanya sampai Rabu, dan masih banyak hal-jal yg harus dikerjakan. Gw duduk terdiam di perjalanan ke hotel. Bingung, ga ngerti musti bilang apa ke bos gw di kantor, ga ngerti harus ngapain. Dalam kesunyian itu gw berdoa dalam hati, “Tuhan, tolong saya”. Udah itu aja doa singkat yg gw ucapkan.

Sempat terlintas power statement “segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Tapi ga bisa dipungkiri, malam itu gw sulit tidur. Berharap jalan ceritanya berubah menjadi sesuai dg alur yg gw inginkan

Esok harinya, Selasa, hari dimana seharusnya akta jual beli itu ditanda tangani, gw hanya melakukan pengurusan ke salah satu dinas provinsi. Ini juga bagian dari kerjaan gw. Yah, setidaknya ada yg bisa gw kerjakan. Disela-sela kesibukan ini gw terpaku dengan suatu moment; induk kucing yg menyusui beberapa anaknya. Terlihat damai sekali anak-anak kucing itu, padahal mereka sedang ada ditengah-tengah lalu lalang para PNS. Sepertinya dunia cukup tenang dan damai untuk dinikmati, sekalipun kenyataannya tidak seperti itu. Mereka tidak khawatir dengan berbagai bunyi langkah kaki, tendangan dari kaki-kaki iseng atau panasnya hawa Samarinda saat itu. Kucing-kucing kecil itu hanya mengambil bagiannya yang terbaik. Melihat itu, hati gw menyiratkan untuk lebih tenang dan menikmati hidup.

Malam sebelum gw tidur, sms dari si penjual masuk, menyatakan siap untuk bertransaksi besok pagi. Gw sempatkan untuk melakukan konfirmasi kepada yang lain. Setidaknya malam ini gw bisa tidur sedikit lebih nyaman.

Rabu, 10 am, transaksi dijalankan. Pajak pembelian dibayarkan, akta ditandatangai para pihak dan uang diserahkan ke penjual. Pyuhh..selesai sudah! Tinggal menunggu beberapa minggu sampai akta jual beli tersebut dan sertifikatnya jadi. Semoga tidak ada hal yang lebih buruk terjadi.

Perjalanan dinas di Samarinda gw tutup dengan makan sate dan sop daging Payau (sejenis rusa). Yang buat gw sedikit miris, setalah selesai makan gw baru tahu bahwa payau adalah salah satu hewan yang dilindungi, karena sudah hampir punah. Nah loh!! But overall rasanya mantab. Berserat seperti daging kambing, agak kasar, namun jauh dari kolesterol. Benar-benar sensasi baru buat gw.

Packing selesai, siap berangkat ke bandara di Balikpapan. Gw sempatkan untuk mampir di notaries…untuk foto bersama. Ga percaya khan?? Ternyata karyawan notaries itu banyak yang perempuan, ibu-ibu tepatnya. Dan gw dijadikan objek foto bersama dg mereka. “kamu koq beda-beda dikit dengan Jeremy Thomas ya…”, “gemes deh..!” Nah loh! Pencobaan apa lagi ini pikir gw. Kasian Jeremy disamakan dg gw. Senyum sumringah gw isyaratkan di bibir. Yah gapapa deh asal kerjaan lancer. cepret!! cepret!! Beberapa kali foto diambil :p

Senin, 31 Maret 2008

Jakarta sore ini


Sore ini Jakarta turun hujan cukup deras walau hanya beberapa saat, setelah beberapa hari belakangan tidak turun hujan. Tampaknya hujan hari ini menjadi gambaran buat suasana kantor gw, setidaknya di satu unit dari bagian divisi besar di kantor. Apalagi klo bukan ada temen yang kontrak kerjanya selesai dan tidak diperpanjang. Ya sedih, ya kehilangan, ya tambah sibuk nantinya (pastilah selama blm ada yang gantiin), apalagi doi temen senasib sepenanggungan. Yah, mau gimana lagi klo udah kebijakan perusahaan.

Perpisahan ditandai dengan makan siang bersama di Pepper & Lunch Plaza Senayan. Makanannya enak banget, saking enaknya ampe soal perpisahan ini ga ada yg bahas. Entah kami larut dalam resep fast food ini atau karena kami merasa jengah untuk membahasnya. Mungkin acara seperti akan sangat jarang terulang. Setelah resign-nya salah satu rekan gw di awal tahun 2008 ini, kini bertambah lagi satu orang. Pyuhhh…! Terbayang rasanya harus melakukan pekerjaan ganda. Pulang malam lagi… tingkat stress bertambah lagi… (mudah-mudahan engga).

Yah, apapun boleh terjadi, tapi brotherhood harus terus terjaga.Good luck bro!

Kamis, 27 Maret 2008

Potret Wanita Tua


Inilah foto wanita tua pemetik teh di Kebun Dayeuhmanggung, Garut. Sempat-sempatnya gw ngambil gambar saat lagi dinas ke puncah gunung Cikuray. Mungkin tidak terlihat terlalu detil dan jelas, maklum diambil dari dalam Panther yang sedang ajrut-ajrutan diatas jalanan berbatu sejauh +/- 5km (ditempuh dalam waktu 1 jam lebih loh!!). Sosok tua renta, kusam, namun tetap terlihat bersemangat ini menunjukan keantusiasan (atau mungkin kepasrahan) menjalani hidup yang berat. Terbiasa dengan bebatuan cadas di jalan yang memisahkan kebun teh ini, wanita tua ini berangkat memetik pucuk-pucuk teh menjelang pagi dan baru pulang sebelum sore. Hmmm…mungkin salah satu dari teh hijau yang biasa gw minum berasal dari petikan tangannya. Tangan yang cukup terampil memilih mana pucuk teh yang masih muda dan layak dipetik, untuk kemudian dikemas dan disajikan kepada para penikmat teh.

Senin, 24 Maret 2008

I Love Monday, Surely



NIt..NIt..NIt..NIt..NItt….!
Alarm di HP gw bunyi menunjukan pukul 05.50am, Huuaaahhh..! hari senin lagi nih. Langsung terbesit macet dan beceknya jalan menuju kantor, tugas-tugas yang masih pending, ditambah lagi perkiraan akan pulang malam krn harus meeting. Belum selesai memikirkan itu semua, gw dikagetkan dengan pembokat yang brisik di balkon depan. Ternyata doi lagi berusaha nangkep burung Kutilang (masih jaman apa nangkep burung??). Segera gw bergegas untuk bangun, mandi dan mempersiapkan segala sesuatunya. “Ayo semangat!” pacu gw terhadap diri sendiri.

Setelah siap semua, gw keluarkan sepeda tercinta. Gw tau bakalan macet banget hari ini, so lebih baik pake sepeda aja, faster & healthier. Pukul 06.31am gw mulai kayuh sepeda, keluar komplek, menyusuri Kalimalang menuju kantor tercinta. Bener deh statement “I don’t like Monday” itu, apalagi setelah libur yang cukup lama dari Kamis dan Jumat lalu. Sepanjang jalan di halte-halte terlihat antrian penumpang seperti biasa: karyawati yang manyun karena harus kerja lagi, karyawan yang siap disibukan dengan pekerjaan ini-itu di kantornya, anak-anak sekolah yang Be-Te karena harus sekolah lagi. Apalagi ditambah panasnya cuaca pagi ini dan macetnya jalan Bekasi – Jakarta.

Tapi buat gw koq beda ya, hari ini begitu enak untuk dinikmati – setidaknya buat gw; setiap kayuhan sepeda, antrian kendaraan, teriknya matahari pagi. Bener-bener tidak seperti senin biasanya. Hari ini gw meliuk-liuk diantara bunyi klakson mikrolet, teriakan para kenek metromini, asap-asap knalpot yang menyesakan, keluar masuk gang / kampung demi jalan pintas. Beberapa mata melihat gw dengan iri – gw tahu, tapi cuek aja pura-pura engga tahu – karena bisa enjoy dan bergerak cepat di padatnya lalu lintas. Sesekali gw mengelap keringat ketika berhenti di lampu merah, mengambil botol air berisi cairan clorophyl, cek hp, menyandarkan tangan di pundak (atau bahkan helm) pengendara motor – pura-pura mau jatuh (he…he....), ngotak-atik cyclo comp di setang, dll. Wuiihhh..pokoknya cukup membuat orang lain tertegun melihatnya. Jalanan memang macet hari ini, sehingga harus keluar masuk jalan tikus, tapi gw tetep excite tuh. Ketemu beberapa goeser di jalan, sekedar melambai atau “TING..TING..!!” gw bunyikan bel pertanda persahabatan.

Sejam lebih berlalu dan gw sampe di kantor. Selesai beberes sepeda, mandi dan sesi selanjutnya sungguh seru: check email sambil ditemani secangkir teh vanilla hangat dan roti. Muantab!! Benar-benar mengawali hari dengan cara yang luar biasa. Thanx God for this Monday, I love Monday, surely!

Sabtu, 08 Maret 2008

dijual murah...



dijual:




Frame xtrada 2nd, merah-hitam


size: 17


harga: Rp 475.000,-




FD Shimano sis


harga: Rp 25.000,-




barang di Bekasi


call: 021-92506299


0856-1615484


Rabu, 20 Februari 2008

Newest Hobby: Travelling

sebenarnya sih bukan hobby terbaru gw, tapi mau ga mau harus gw lakukan. ceritanya ada keperluan kantor (dinas) yang harus gw lakukan di beberapa daerah di nusantara tercinta ini. jadi deh gw melaksanakan amanat dari kantor tercinta sambil merasakan bedanya tanah yg gw pijak di masing-masing pulau besar di nusantara.

bermula dari dinas ke Palu untuk beberapa hari bertemu dengan pejabat setempat untuk mengurus perizinan kantor. di salah satu bagian dari pulau sulawesi ini hawanya cukup panas juga. engga terlalu banyak yg bisa gw nikmati selain dari ikan bakarnya dengan bumbu khas Palu dan snoorkling di teluk Palu. tapi sayangnya kehindahan teluk di pinggir kota ini dicemarkan oleh kelakukan driver carteran. bayangin aja, sementara gw berasik-asik snoorkling, uang gw berkurang sebagian. engga lagi deh menggunakan jasa itu orang, kapok!
Kemudian dinas beralih ke Garut. wah, tempatnya beda drastis dari Palu: dingin, nuansa pegunungan tanpa laut, makanannya jauh lebih sehat (krn lalapan) dan murah. Nah, gw sangat merekomendasikan makan di resto Megawati II. jangan salah, resto ini bukan punya mantan presiden Ibu Megawati. menu yang disajikan sangat muantab, apalagi tempe orek dan pepes ayamnya. Maknyuuussss...! lokasinya tidak jauh dari perkebunan nasional Dayeuh Manggung. Ohnya, gw nginep di Sumber Alam, lumayanlah tempatnya, bener-bener Kampung Sampireun versi generik. View & fasilitasnya ga kalah loh!!
Belum puas berada di Garut, gw melanjutkan ke Samarinda (via Balikpapan). Ah, ini tempat sama panasnya dengan Palu. Bahkan lebih panas karena dekat dg ekuator. Hal-hal yang unik disini adalah:
  1. taxi dari Balikpapan ke Samarinda (dan sebaliknya) ngebut gila-gilaan. Persis sama di film Taxi. Jujur aja gw lebih pusing naik taxi ini daripada naik pesawat dg cuaca buruk di atas laut Jawa. Umumnya mereka jalan beriringan. Taxi di depan sebagai leader. Jadi kalau ada yang mau nyalip, taxi terdepan akan memberitahukan ada / tidaknya kendaraan dari arah berlawanan. Ohya, jalurnya lebih parah dari Alas Roban.
  2. angkot disini udah kayak mobil carteran. Ada trayeknya, tapi bisa berubah sesuai permintaan penumpang, sudah seperti taxi aja. Penumpang dg jalur terdekat akan dianter duluan, sekalipun beda arah dari penumpang sebelumnya. Gile khan??
  3. kolak. Nah, kolak disini hanya berisikan pisang dan kacang, nah loh?? kemana yg lainnya? kuahnya sih lebih mirip kuah es campur, karena pakai gula dg warna merah, susu dan es. hiii...dinginnn...

Nah sekarang gw lagi di Bengkulu nih. Karena sudah terlalu sore, ga bisa ketemu dg pejabat-pejabat terkait, dan daripada bengong di hotel, mendingan ngisi blog aja khan..

Jumat, 18 Januari 2008

Another Accident (B2W)

Perjalanan pagi ini diwarnai dengan kecelakaan teman sy; om Guntur. ah, seharusnya hari ini adalah hari yg menyenangkan mengingat ada perayaan ultah Robek (Rombongan Bekasi) dan ultah om Jonardy malam nanti
Pukul 5.35 am, sy berangkat dari rumah, tujuan adalah halte Giant Kalimalang, halte tempat mengumpulnya Robek sebelum menuju kantor masing2. Sekitar 1km dari rumah ketemulah sy dengan om Guntur, pengguna Polygon Premier yang ber B2W seminggu 2x. Mungkin karena terlalu cepat sy mengayuh sepeda, om Guntur tertinggal jauh di belakang. Sebagai bentuk solidaritas, saya kurangi kayuhan, maksudnya untuk bisa berjalan beriringan dengan beliau. Ketika sampai di halte Giant, sempat mengajak om Guntur ikut serta dengan rombongan yg lain, tapi mungkin karena beliau ada kesibukan di kantor, beliau langsung melaju. Tak lama kami di halte tsb, beberapa Robekers berjalan mendahului kami, sekitar 3 menit perjalanan jauhnya dibelakang om Guntur.
Pukul 6.15 am, Robek bergerak dari halte Giant, jalan beriringan menuju kantor masing-masing. Tapi apa dikata, tidak jauh di depan, kami melihat para Robekers yang berjalan lebih dahulu sedang berkerumun. Tak ayal, om Guntur pucat pasi, duduk bersender di marka jalan. Rupanya beliau tertabrak BMW yang dikemudikan seorang wanita. Darah segar mengalir dari betisnya, rim belakang Premier-nya keriting ga jelas. Karena masih bisa berjalan, om Guntur yang ditemani beberapa rekan Robek, membuat laporan polisi, kemudian mendatangi rumah sakit terdekat untuk pengobatan.
Sy belajar tentang pentingnya kebersamaan saat bersepeda. yah, setidaknya klo terjadi apa-apa, ada rekan yang mendampingi. Next time ga mau jd lone rider deh.

Rabu, 16 Januari 2008

My Patrol


Akhirnya, setelah sekian lama berangan-angan berhasil juga meminang frame Patrol SL 2007 warna hitam. Senengnya bukan main deh.. Kalau dulu hanya bisa ngiler melihat frame ini dipajang di toko sepeda, sekarang kebeli juga. Harga frame ini berkisar 900 ribu - termasuk murah utk frame full suspension original - namun karena beli dari orang yang dah bosen pake Patrol (krn patah 2x), akhirnya frame hasil claim ke BAB ini beliau jual dg harga 750rb. So many thanx to Mr. Davefayet from http://www.sepedaku.com/



Nantinya frame ini akan menggantikan frame Xtrada yg sudah setia menemani sy bersepeda selama 8 bulan ...sorry loh my beloved Xtrada, bukan tidak menghargai jasamu selama ini, tapi ada frame lain yg mencuri hatiku... Rencananya Xtrada ini akan sy jual lagi. Lumayan, buat saving (saving?? loh koq malah ganti frame??).


Setelah frame Patrol ini, up grade apa lagi ya?? he..he..he.. jangan deh, nabung buat married aja!!

Jumat, 11 Januari 2008

Perjalanan yg Melelahkan (Tour de Muara Gembong)

Ternyata Bekasi juga memiliki objek cross country (XC) yang medannya lumayan berat, apalagi di musim hujan bgini. Tour de Muara Gembong ini sebenarnya diselenggarakan untuk survey. Kami dari B2W Bekasi (Robek) bermaksud untuk melakukan aksi solidaritas, yaitu pemberian pakaian bekas layak pakai kepada korban banjir di Muara Gembong, dlm rangka memperingati ulang tahun Robek yg pertama. Berikut ini kilasan perjalanan kami, 10 Jan 2008:

Starting point Tour ini dimulai di pelataran Giant Bekasi. 15 orang Robek’ers berkumpul dan kemudian berangkat pukul 6.45 am dengan om Blacken sebagai leader dan om Alfa sebagai sweaper. Selepas dari Giant kami melewati Bekasi kota untuk menuju ke Babelan. Matahari cukup lembut bersinar mengiringi kepergian kami. Sengaja kami pilih jalan yang cukup sepi sekalipun di tengah kota Bekasi. Kami melewati bunderan bekas patung lele, kemudian lurus terus melewati rel kereta. Terus..terus...terus....dan terus! Betul, kami hanya mengikuti jalan yg dikomandoi oleh om Blacken. Atau mungkin sempat belok dibeberapa persimpangan, namun karena saya terlalu antusias mengikuti rombongan sehingga lupa dimana kami belok.

Kami semakin masuk ke wilayah Babelan. Jangan harap menikmati mulusnya aspal dg road bike; aspal hancur, jalan makadam dan becek menghadang kami. Sempat terlintas di pikiran saya bahwa daerah ini terlalu terpencil, namun saya sadar, ini belum apa-apa, kami masih terus masuk menjauhi pusat kota. Apalagi saat melewati pasar Babelan. Ampun deh jalannya... Istirahat pertama kami lakukan di Babelan karena ada beberapa teman yg bermaksud mengisi perutnya dg nasi uduk. Jadilah kami berhenti di pinggir jalan. Beberapa dari kami makan (thanx to mpok nasi uduk!!), sisanya berfoto-foto atau memeriksa kondisi sepeda. Perjalanan kami lanjutkan melewati perkampungan, masuk lebih jauh ke utara Bekasi. Rusaknya jalan dan sinar matahari yg mulai kurang ramah memaksa kami berhenti lagi sekedar utk istirahat, membeli minum dan mengisi perbekalan.

Selepas istirahat kami terus melaju memasuki daerah yg kami baru ketahui belakangan bernama Sungai Labuh. Daerah pantai mulai terasa; sungai besar, dg beberapa kapal yang rusak, tambak payau dan jaring nelayan setempat terlihat. Seperti yang saya duga, semakin menjauhi kota, semakin off road jalannya. Jarak antar rumah pun sudah mulai berjauhan. Kami belok kanan di persimpangan kilang Pertamina dan melaju terus melintasi daerah rawa. Saat melewati beberapa pemburu babi hutan dan anjingnya yg sangar2 (ternyata masih ada babi liar di Bekasi), kami bermaksud melintasi jalan setapak yang di kanan dan kirinya ilalang setinggi +/- 2m. Belum jauh kami masuk kesana, niat itu kami urungkan karena jalan susah dilalui, terlalu becek. Penduduk sekitar pun menyarankan kami untuk mengambil jalan lain.

Akhirnya kami sampai di titik penyeberangan getek di selat sebelum Muara Gembong. Lumayan, kami bisa istirahat sambil minum air kelapa muda fresh from it tree, warga setempat yang mengambilkannya untuk kami. Dalam istirahat ini akhirnya kami sadar bahwa kami sudah cukup kelelahan. Cyclo menunjukan angka 33 km dari starting point. Pyuhhh...!! Setelah berdiskusi akhirnya kami memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan ini (lohh!! Ga jadi donk surveynya?? Klo soal ini sih dijawab lain waktu ya...). Selesai beristirahat kami bergegas untuk pulang. Gile! Ternyata perjalanan pulang masih jauh, sementara kami sudah kelelahan dan ditambah lagi dengan teriknya sinar matahari.

Sengaja om Blacken memilih jalan yg berbeda dari keberangkatan. Supaya kami tahu jalan katanya.. Ok, jalan makadam, tanah lumpur, jembatan kayu reyot sampai jalan tanah panjang (banget) di dekat kilang Pertamina kami lalui. Kami berjuang untuk terus menggoes, sekalipun beberapa kali istirahat, baik untuk menunggu teman yg tertinggal maupun berfoto2 (tetep ya, hanya mukanya lebih kusam :p). Orientasi kami hanya 1: singgah di rumah om Blacken for lunch (ternyata sy belum makan dr pagi). Belok kanan / kiri kami lupa, selama om Blacken tetap berada di depan kami. Lapar sudah tak terkira, ternyata kami tidak kunjung sampai ke rumah beliau, jauuhhh...banget!

Akhirnya kami sampai. Kue, buah, syrup, nasi dan teman-temannya kami lahap. Sementara perut mengolah makanan (suatu pekerjaan yang menguras energi dan membutuhkan oksigen), satu persatu dari kami tertidur. Namun perjalanan sy dan beberapa teman belum selesai. Selepas dari rumah om Blacken, kami harus menempuh jarak 10km untuk kembali ke rumah masing-masing.
Total perjalanan ini 76km bdk cyclo sy, suatu moment yg tdk akan terlupakan khususnya karena membuat kami sangat kelelahan.