Jumat, 11 April 2008

3 Hari di Samarinda






Akhirnya perjalanan dinas mengharuskan gw pergi ke Samarinda, lagi.. buat gw ini dinas yang boleh dikatakan tidak terlalu menyenangkan, maklum dibebani tanggung jawab yang cukup besar. Ceritanya gw harus mendampingi kepala cabang suatu bank, untuk tanda tangan akta jual beli tanah. Sebenarnya sih tanah itu asset kantor gw, namun karena kantor gw punya sister company disana, dimintanyalah untuk mewakili pembelian asset tsb. Gw pergi dengan rasa was-was, pengharapan yang diselingi kecemasan, apakah hal tersebut dapat berjalan lancar. Maklum segalanya dipersiapkan dari jauh (Jakarta – Samarinda), by phone pula (dimana standar di kantor gw telp akan mati otomatis setiap 3 menit). Gile, transaksi ratusan juta dapat terganggu dengan kendala-kendala ini. Belum lagi ditambah kurang mengenalnya pihak notaries dan calon penjual. Duh! Tambah mumet.

Seperti biasalah, pesawat delay 40 menit di bandara Cengkareng. Padahal gw sudah sampai jam 5 am (seharusnya pesawat take off jam 6 teng!). Sampai di Balikpapan gw sudah siap untuk naik ke taxi super yang akan mengantarkan gw ke Samarinda. Super disini maksudnya taxi yang jalan super cepat namun kurang hati-hati. Bener aja khan, suatu saat di jalan taxi yg gw tumpangi hampir terlindas truk karena mencoba menyalip tanpa perhitungan. Thanx God, itu tidak terjadi!!

Gw sampai tepat setelah jam makan siang. Tanpa istirahat, gw, ditemani notaris langsung menuju lokasi untuk melakukan pengukuran. Ohya,. Sebelumnya gw sempat bersitegang dg notaries ini sebelum keberangkatan. Biasalah masing-masing punya kepentingan, dia mau sesuai prosedur (yg menurut gw engga banget deh), gw mau yang cepat tapi aman. Saking serunya, sempat telp gw tdk diangkat, padahal gw perlu konfirmasi untuk hari-H ini. Tetapi ketika sudah bertemu, rasa kesal itu mulai hilang. Yah mungkin itu dia, klo mau deal dg seseorang sebaiknya bertemu langsung biar jelas apa maunya masing-masing, jangan sekedar pake telp, apalagi mati tiap 3 menit, halah!!

Pengukuran kelar, gw siap kembali ke hotel untuk istirahat. Di perjalanan gw sempatkan untuk konfirmasi ke si penjual. “Pak, sy sudah pengukuran dg notaries, besok siap ttd akta” sms gw kirimkan. “Nit...Nit!”… “wah saya sedang di bandara, saya akan ke Jakarta. Rabu saja” sms gw terima. WHAT’S??!! mencelat jantung gw pindah dari posisinya. Kaget plus panic, gw seperti petasan karapan sapi dg sumbu pendek yang siap meletus. Gimana bisa dia pergi dadakan tanpa info. Sementara jatah gw disini hanya sampai Rabu, dan masih banyak hal-jal yg harus dikerjakan. Gw duduk terdiam di perjalanan ke hotel. Bingung, ga ngerti musti bilang apa ke bos gw di kantor, ga ngerti harus ngapain. Dalam kesunyian itu gw berdoa dalam hati, “Tuhan, tolong saya”. Udah itu aja doa singkat yg gw ucapkan.

Sempat terlintas power statement “segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Tapi ga bisa dipungkiri, malam itu gw sulit tidur. Berharap jalan ceritanya berubah menjadi sesuai dg alur yg gw inginkan

Esok harinya, Selasa, hari dimana seharusnya akta jual beli itu ditanda tangani, gw hanya melakukan pengurusan ke salah satu dinas provinsi. Ini juga bagian dari kerjaan gw. Yah, setidaknya ada yg bisa gw kerjakan. Disela-sela kesibukan ini gw terpaku dengan suatu moment; induk kucing yg menyusui beberapa anaknya. Terlihat damai sekali anak-anak kucing itu, padahal mereka sedang ada ditengah-tengah lalu lalang para PNS. Sepertinya dunia cukup tenang dan damai untuk dinikmati, sekalipun kenyataannya tidak seperti itu. Mereka tidak khawatir dengan berbagai bunyi langkah kaki, tendangan dari kaki-kaki iseng atau panasnya hawa Samarinda saat itu. Kucing-kucing kecil itu hanya mengambil bagiannya yang terbaik. Melihat itu, hati gw menyiratkan untuk lebih tenang dan menikmati hidup.

Malam sebelum gw tidur, sms dari si penjual masuk, menyatakan siap untuk bertransaksi besok pagi. Gw sempatkan untuk melakukan konfirmasi kepada yang lain. Setidaknya malam ini gw bisa tidur sedikit lebih nyaman.

Rabu, 10 am, transaksi dijalankan. Pajak pembelian dibayarkan, akta ditandatangai para pihak dan uang diserahkan ke penjual. Pyuhh..selesai sudah! Tinggal menunggu beberapa minggu sampai akta jual beli tersebut dan sertifikatnya jadi. Semoga tidak ada hal yang lebih buruk terjadi.

Perjalanan dinas di Samarinda gw tutup dengan makan sate dan sop daging Payau (sejenis rusa). Yang buat gw sedikit miris, setalah selesai makan gw baru tahu bahwa payau adalah salah satu hewan yang dilindungi, karena sudah hampir punah. Nah loh!! But overall rasanya mantab. Berserat seperti daging kambing, agak kasar, namun jauh dari kolesterol. Benar-benar sensasi baru buat gw.

Packing selesai, siap berangkat ke bandara di Balikpapan. Gw sempatkan untuk mampir di notaries…untuk foto bersama. Ga percaya khan?? Ternyata karyawan notaries itu banyak yang perempuan, ibu-ibu tepatnya. Dan gw dijadikan objek foto bersama dg mereka. “kamu koq beda-beda dikit dengan Jeremy Thomas ya…”, “gemes deh..!” Nah loh! Pencobaan apa lagi ini pikir gw. Kasian Jeremy disamakan dg gw. Senyum sumringah gw isyaratkan di bibir. Yah gapapa deh asal kerjaan lancer. cepret!! cepret!! Beberapa kali foto diambil :p

Tidak ada komentar: