Akhirnya…setelah beberapa minggu berkutat dengan pekerjaan kantor yang cukup membosankan, kini tiba lagi giliran gw untuk dinas luar
Masih ke tempat yang sama seperti yang pernah gw kunjungi dulu: Palu. Kota yang sepi, panas dan agak mahal makanannya. Berangkat dari bandara Soekarno Hatta pukul 7.30am (artinya dari jam 4.30 am gw harus sudah ada di Damri). Kali ini pesawat yang gw tumpangi transit via Surabaya. Wah ini pertama kalinya gw ke Surabaya. Disaat menikmati perjalanan di udara, perut ini mulai terusik. Maklum sudah dua hari belum melakukan “panggilang alam” (baca: pup). Sambil berharap akan segera sampai, gw mencoba bertahan sekuat tenaga. Klo sampe kebobolan? Ampun deh malunya, lagi pula gw bakalan di blacklist ama maskapai penerbangan.
Sampai sudah di Surabaya, Yes!!! Tapi…koq ga boleh turun ya?? Ternyata pesawat hanya transit sebentar. Aduh..duh..gimana nih?? Modal kulit badak gw beranikan diri bertanya ke Pramugari yang cantik. “mbak, maaf boleh keluar pesawat ga? Saya sakit perut neh.. khan ga mungkin di toiliet pesawat…” sambil memelas gw menatap si mbak pramugari. Dia kembali menatap dengan cara yang aneh (mungkin dia pikir ni cowo keren tapi ga bisa nahan pup… Yee.. terserah gw donk…! Klo soal beginian mana bias ditahan…), kemudian mempersilahkan gw untuk keluar, “tapi harus lapor dulu ke bagian transit ya Mas”. Gw langsung melesat mencari tempat melapor. Ya ampunnn… teryata jauhnya ga kira-kira…mana gw harus menahan “sampah” ini lagi!!
---
Singkat cerita “acara” ini selesai sudah. Khan ga perlu diceritakan detil ya prosesnya. Anyway, toilet di bandara Surabaya ternyata lebih bersih dari Soekarno-Hatta. Bahkan secara keseluruhan bandara ini relative lebih bersih dari bandara lain di Indonesia.
Malam ini gw habiskan di Palu. Buru-buru tidur karena besok pagi harus bertemu dengan pejabat setempat. Flu yang belum sembuh ditambah nasi goring hongkong yang baru gw makan menambah semangat untuk tidur (Loh???!).
Setalah menyelesaikan pekerjaan, sebelum barangkat ke airport untuk lanjut ke Manado via Makasar (tuh…panjang khan perjalannya), gw sempatkan makan di tempat yang cukup terkenal di Palu: restoran Darisa, dengan menu spesialnya: “Pallumara Makasar”. Hmmm…makanan ini harus dicoba. Terbuat dari kepala ikan Kakap, mirip seperti gulai Kakap, hanya saja rasanya lebih “ringan”. Warnanya yang kuning mentereng, diberikan taburan bawang goreng Palu yang terkenal (btw, bawang goreng disini sangat terkenal enak dan mahal: 1 pak = Rp. 50.000), plus ada irisan cabai. Hmm…benar-benar luar biasa. Serat dagingnya lembut, bumbunya mantab! Pokoknya klo kesini, gw harus makan ini lagi.
Nah, perjalanan belum berakhir juga. Gw masih harus melanjutkan dinas di Ternate – secara untuk kesana flight-nya agak susah dan yang pasti sedang rawan kerusuhan pilgub. Karena sulitnya rute penerbangan, maka rute yang gw ambil seperti ini: Palu – Makasar – Manado (nginep 1 malam) – Ternate. Capenya? Bisa dibayangin deh rasanya. Mulai dari nunggu karena delay yang kelewatan sampai pegelnya berjam-jam di pesawat. Gw cukup terhibur sekalipun delay lumayan lama di Makasar, maklum executive lounge-nya lumayan bersih & nyaman untuk istirahat (sekalipun makanannya standar banget). Akhirnya pesawat yang ditunggu-tunggu tiba juga dan gw langsung berangkat ke Manado.
Perjalanan yang engga kalah seremnya adalah ketika terbang dari Manado to Ternate. Melintasi lautan dalam khas Indonesia timur, dengan pesawat kecil pula. Pastinya berasa banget guncangan akibat turbulence. Tidak ada kata lain terucap selain doa agar bisa tiba dengan selamat. Apalagi gw menggunakan maskapai yang sama dengan maskapai penerbangan yang pesawatnya hilang di perairan Majene – Sulawesi tahun lalu. Hiiiiiiiiii……. Apesnya, pulang dari Ternate esok harinya juga menggunakan pesawat yang sama. Maklum, bandara Sultan Baabulah di Ternate adalah bandara kecil. Boro-boro Boing ER900, lah wong Boing 747-300 aja ndak bisa mendarat…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar