Jumat, 07 Desember 2007

Fight for Bike Line??

Beberapa waktu lalu Gubernur baru Jakarta menyatakan simpati kepada B2W serta akan merencanakan pembuatan bike line. Namun secara tidak langsung niat baik ini ditunda sampai jumlah pemakai sepeda di Jakarta mencapai angka 1 juta personil.


Pertanyaannya, perlukah bike line itu?


Sebagai pecinta sepeda (3x seminggu gw bersepeda) yang juga masih menjadi pemakai kendaraan penyumbang polusi (baca: motor & mobil), terkadang gw mikir apa akibatnya klo bike line itu jadi dibuat. Di Belanda, Cina dan beberapa negara bagian AS, pengendara sepeda dimanjakan dengan bike line. Bahkan bukan hanya itu saja, disana disediakan tempat parkir sepeda untuk menggantinya dengan kendaraan umum. Setidaknya pembuatan bike line ini mempunyai dampak (+) dan (-) yang selalu berdampingan, seperti makan buah simalakama.


Dampak (+)nya ialah pengguna sepeda pasti akan merasa lebih save ketika harus mengarungi samudra jalan raya ibu kota. Setidaknya mereka tdk perlu rebutan dengan pengguna jalan lain, yang notabene selalu menang. Kalau hal ini tergenapi mungkin tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti B2Wers yang ditendang oleh pengendara motor, diseruduk dari belakang oleh angkot, dsb.. Lagi pula dengan dibuatnya bike line, masyarakat akan semakin termotivasi untuk ber B2W. Percaya deh...


Dampak (-)nya (ini yg buat gw mikir...). Space jalan di Jakarta kan cuma segitu aja, itu aja udah bikin pusing krn macet. Jalan yang belum cukup bagi jutaan kendaraan bermotor pun menjadi lebih sempit dengan dibangunnya jalur bus way (gw tidak menyalahkan bus way loh!!). Apalagi nanti kalau mau dibuat bike line? Waduh!! jalan mana lagi yang mau "dicukur" untuk bike line? Ataukah perlu "mencukur" trotoar yang merupakan kerajaan pejalan kaki dan tanaman penyaring udara kotor Jakarta?? Wah, jujur gw sih ga tega juga nih..


Btw, kira-kira kalau bike line jadi dibuat, perlu nunggu waktu berapa lama ya, mengingat harus tembus angka 1 juta pengguna sepeda?? per hari ini, member di web B2W sekitar 4000 orang, itu pun belum tentu semuanya di Jakarta. Yah, anggap saja 3000 orang B2Wers di Jakarta. Kemudian ditambah pengguna speda lainnya yang tidak mengenakan tag B2W (baca: belum anggota B2W), seperti buruh pabrik, tukang siomay, tukang vermak levis, tukang roti, dsb..). Ditambah mereka pun belum tentu tembus angka 200 ribu. Lah klo gitu, kapan sampai sejutanya.....??
so, be wise sajalah...ada / ga ada bike line, tetep setia ngegoes...
-true biker never quit-

Tidak ada komentar: